Bambu
Sebilah bambu retak seribu
hancur seluruh tulang
berbuku-buku badan
tak mungkin lagi tegak
menjadi penopang
ataupun gantungan
tapi bukankah masih bisa menjadi anyaman?
sebagai alas yang nyaman
dinding yang membentengi
atau pun atap yang melindungi
dia bisa menjadi apa saja
bila kau ikhlas menerima
sebilah bambu yang retak seribu
walau kan terluka seluruh jari tanganmu
Angin
Angin,
aku kepingin terbang
bisa bawa aku sekarang?
Akan kututup mataku
agar gelap malam tak dapat kulihat
toh bintang dan bulan hanya ada di kejauhan
dan sekarang bersembunyi entah dimana
Akan kututup telingaku
sebab hanya keheningan yang ingin kudengar
otak tak berhenti berlogika
hati berkelahi riuh rendah begitu bising
aku ingin terbang
merasa ringan
tapi mengapa aku hanya melayang-layang di kehampaan?
Angin,
kau tak mau meniupku?
[ .. ]
Denyar kehangatan
sayup-sayup beranjak nanar
kosongkan relung-relung nafas
mengisinya dengan pekat
Selarik jejak tanah
menyisakan serpihan-serpihan topeng yang hancur
mengingatkan pada keperihan setiap ceruk tubuh
oleh luka-luka yang tak kunjung sembuh
Di bulat bulan
kuguratkan ujung jari yang asin
melukis langit, mencungkil bintang
pendar dingin cahaya
mengusap kekosongan
mengetuk geliat rahim dengan sunyi
lalu tinggalkan ia berdetak sendiri
merindu bulan jatuh di pangkuan
Sepotong Wajah
Cabikan sepotong wajah
kau hamburkan ke udara
Serpihannya beterbangan
bagai daun berguguran di ujung petang
Mataku tetap menyanyikan sajak luka
Namun tiada henti kau usap
dengan ujung jarimu
Jangan menangis lagi
Lirih
Kau ucapkan itu
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (2)
- December 2008 (1)
- November 2008 (1)
- August 2008 (1)
- October 2007 (3)
- September 2007 (4)
- August 2007 (1)
- January 2007 (1)
- December 2006 (1)
- July 2006 (3)
- June 2006 (4)
- December 2005 (12)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS