Seperti
Seperti biru gunung di kejauhan
Langit luas membentang
Pelangi usai hujan
Sinar matahari pagi
Semilir angin di keheningan
Bantal yang empuk
dan bayi yang besar
Seperti itulah dirimu..
Dan seperti senja yang temaram
memberikan tenang
Seperti itu juga pelukmu..
nb : for my aip [^_^] I luv u no matter what
Arti
Di sini ku lihat petang di ujung siang
Di belahan lain fajar menyingsing
Riak-riak awan berkapas
berangkat dari perjalanan setetes air
ke hulu, hilir, muara, samudera, awan lalu hujan
Bunga-bunga menguncup, mekar, dan layu
Musim berganti-ganti
Manusia pun lahir, hidup, kemudian mati
Tahukah kawan?
Hidup itu suatu perjalanan
hingga dunia berhenti
memasuki alam yang abadi
Pernahkan kita renungi
seluruh arti ini?
Untaian kabut
Untaian kabut telah berhenti menggelayut
ranting-ranting muda yang terus menggeliat
mencari cahaya
Pucuk-pucuk daun tumbuh
Akar-akar mencengkram tanah
Bunga-bunga beterbangan mencipta simfoni
Langit biru beriak-riak
Indah
Musim semi ini akankah selamanya?
Syukur
Cinta tumbuh silih berganti
Rasa hilang seiring waktu
Kenangan manis dan pahit
kini hanyalah cerita
yang kerap mengundang senyum
Masa lalu terkadang menyisakan sesal
tetapi adakala merupakan syukur
Dunia terus berubah
Waktu terus berjalan
Hadapi, hidup yg kita lalui
syukuri,nikmat yang telah diberi
Pelangi di matamu
Hari beronak
cahaya sekarat
jalan yang kita lalui
ujungnya tak jua ditemui
Aku berpegang pada kata
seperti halnya dirimu
dan juga permintaanmu
tak kan kulepaskan genggaman tanganku
karena berjuta pelangi
ada di matamu
?
masa tidak akan pernah sama lagi
hari ini, bertahun-tahun lalu
ku mendengar adzan pertama kali
dan kuteriakkan tangisan pembuka hari
Alunan lagu silih berganti
ribuan hari di arungi
di hari ini
di sudut hati
mengapa aku merasa sunyi?
seperti inikah sendiri?
Biru Langitku
Langit
mencurahkan biru di mataku
Biru
membaurkan warna di hatiku
Warna
melengkungkan pelangi di senyumku
Pelangi
memberi indah di hariku
Indah
adalah biru langitku untukmu
lonely
Aku bercinta dengan malam
terlalu mabuk dengan sunyi
yang tak henti dituangkan dan kutelan
berteguk-teguk dengan nanar
Bola mata bermain liar
menyorot setiap ceruk kegelapan
dinding-dinding hati
yang penuh oleh goresan ribuan gumam
Aku menggapai suara-suara berkesiuran
Kosong-hanya udara
jemari sudah lelah menggurat nama
angin hanya menggantungkannya
dalam langit-langit ruangku
-Penuh-
di kelelahan
aku menangis dalam diam
sendirian
Bambu
Sebilah bambu retak seribu
hancur seluruh tulang
berbuku-buku badan
tak mungkin lagi tegak
menjadi penopang
ataupun gantungan
tapi bukankah masih bisa menjadi anyaman?
sebagai alas yang nyaman
dinding yang membentengi
atau pun atap yang melindungi
dia bisa menjadi apa saja
bila kau ikhlas menerima
sebilah bambu yang retak seribu
walau kan terluka seluruh jari tanganmu
Angin
Angin,
aku kepingin terbang
bisa bawa aku sekarang?
Akan kututup mataku
agar gelap malam tak dapat kulihat
toh bintang dan bulan hanya ada di kejauhan
dan sekarang bersembunyi entah dimana
Akan kututup telingaku
sebab hanya keheningan yang ingin kudengar
otak tak berhenti berlogika
hati berkelahi riuh rendah begitu bising
aku ingin terbang
merasa ringan
tapi mengapa aku hanya melayang-layang di kehampaan?
Angin,
kau tak mau meniupku?
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (2)
- December 2008 (1)
- November 2008 (1)
- August 2008 (1)
- October 2007 (3)
- September 2007 (4)
- August 2007 (1)
- January 2007 (1)
- December 2006 (1)
- July 2006 (3)
- June 2006 (4)
- December 2005 (12)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS