Derasnya rinai hujan
Mungkin seperti itulah air mata
Manusia bagai buih
Ringkih terhanyut sedikit riak kuasa
Tersapu sudah setitik dunia
Pertanda apa?
Bencana seperti cermin yang menoreh luka
Kita dapat berkaca
Dalam serpihan keburaman jiwa
Masihkah kita jumawa?
Alpa dengan segala karunia
-28 Des 2004-
u : Bencana tsunami 26 Des 2004
Tags: buih, hikmah, jumawa, karunia, kuasa, manusia
Tidak pada langit aku meminta
Tidak pada batu ku bercerita
Tidak juga pada hujan dan dedaunan
Tidak juga saat kuning berubah warna
Bagaimana mampu ku hempas lara
Bila semua hanya mengendap menyesak sukma
Tidaklah bisa menelan tangan
Tidaklah bisa kaca mengganti bayangan
Untuk apa menitip hati
Untuk apa menitip cinta
Bila tiada jiwa menyertainya
Tak pula ku bertanya
Tak ingin ku meminta
Sebab tak mungkin memaksa rasa
Biarlah ia dengan kemurniannya
Tumbuh saat takdir tiba
Entah kapan, di mana, dan pada siapa…
-25 Des 2004-
for : My inspirate
this is the answer response for your poem.
Sorry for not giving you enough. Thanks for all.
Birds fly high, hard to catch, but the one like you, hard to forget.
Mawar biarlah mekar
Sebab duri tak terasakan lagi
Memandang jauh
Sudah cukup bagi hati
Di sini, ribuan kelopak seruni
Temani hari berbagi warni-warni
Menanti melati
Tersemat di kerudung putih
Suatu pagi
-12 Des 2004-
Tags: kerudung putih, mawar, melati, puspa, seruni
Langit, memapar tarian galaksi
dengan berjuta aurora
Awan-awan hidrogen telah melahirkannya
dengan formasi yang memesona
Akankah kutampik berjuta karunia
Sebab tak ingin lagi kupalingkan wajah ini
dengan keindahan yang Kau miliki
Wahai Maalikul Mulki..
-10 Nov 2004-
Tags: aurora, galaksi, karunia, kharisma, langit, Maalikul Mulki
Musim tak mampu lagi terbitkan setitik rintik
Gugur daun melayang tiada massa
Menghembus lelah nafas pawana
Terbang mengawang-awang
Mengait belukar merintang jalan
Mencipta luka sendiri
- 10 Okt 2004 -
Tags: musim, nyanyian, sunyi
Mengunyah pahit
Melumat getir
Mencacah luka
Mengulum sepi
Menyesap perih
Menelan semua
Tutup hati
Tutup mata
Tutup telinga
Bicara – Berlaku
Tak berjiwa
Rasa kehilangan makna
Bahasa kehilangan kata
-12 Sept 2004-
Tags: bahasa, kata, makna
Langit semi berbunga
Beribu kelopak bermain warna
Menari selendang putik-putik sari
Bernyanyi berganti syair suka-suka
Celoteh imanjinasi, merupa, menjelma apa saja
Menangis, tertawa, Ha.Ha.Ha
-18 Sept 2004-
untuk: Anak-anak Dunia
Tags: bunga, celoteh, imajinasi, putik, tawa, warna
Langit sungsang
Jejak sesat hilang tapak
Haruskah berpaling ?
Sebab letih ringkih menepuk angin
Mencari bayangan dalam gelap akankah dapat ?
-28 Agustus 2004-
Tags: hilang, sesat, sungsang, tapak
Biarlah menjadi buih
hingga hilang lingkaran perih
Biarlah menjadi angin
hingga panas berubah dingin
Biarlah menjadi air
agar pasrah ikuti takdir
Biarlah menjadi api
agar hangus semua duri
Biarlah menjadi tanah
agar menjadi pusara kisah
Biarlah menjadi batu
hingga pecah tertempa waktu
Biarlah menjadi retak
agar tumpah semua sesak
Biarlah semua merupa
Biarlah…
Karena ku sudah lelah…
-26 Agustus 2004-
Tags: biarlah, lelah
Kuhirup malam yang beracun
Lantas mabuk
dengan segala asukan rasa
Terbang melayang
dengan sayap-sayap mimpi
Bergelayut
di ranting-ranting waktu
lalu tersungkur
dengan helai-helai sayap patah
Mengharap penawar
rasa sakit yang menyebar
Tertoreh luka
Mencoba terbang…terbang…terbang
-13 Agustus 2004-
note : I wish I could fly…
Tags: penawar, sayap patah, terbang