?
masa tidak akan pernah sama lagi
hari ini, bertahun-tahun lalu
ku mendengar adzan pertama kali
dan kuteriakkan tangisan pembuka hari
Alunan lagu silih berganti
ribuan hari di arungi
di hari ini
di sudut hati
mengapa aku merasa sunyi?
seperti inikah sendiri?
Biru Langitku
Langit
mencurahkan biru di mataku
Biru
membaurkan warna di hatiku
Warna
melengkungkan pelangi di senyumku
Pelangi
memberi indah di hariku
Indah
adalah biru langitku untukmu
lonely
Aku bercinta dengan malam
terlalu mabuk dengan sunyi
yang tak henti dituangkan dan kutelan
berteguk-teguk dengan nanar
Bola mata bermain liar
menyorot setiap ceruk kegelapan
dinding-dinding hati
yang penuh oleh goresan ribuan gumam
Aku menggapai suara-suara berkesiuran
Kosong-hanya udara
jemari sudah lelah menggurat nama
angin hanya menggantungkannya
dalam langit-langit ruangku
-Penuh-
di kelelahan
aku menangis dalam diam
sendirian
Bambu
Sebilah bambu retak seribu
hancur seluruh tulang
berbuku-buku badan
tak mungkin lagi tegak
menjadi penopang
ataupun gantungan
tapi bukankah masih bisa menjadi anyaman?
sebagai alas yang nyaman
dinding yang membentengi
atau pun atap yang melindungi
dia bisa menjadi apa saja
bila kau ikhlas menerima
sebilah bambu yang retak seribu
walau kan terluka seluruh jari tanganmu
Angin
Angin,
aku kepingin terbang
bisa bawa aku sekarang?
Akan kututup mataku
agar gelap malam tak dapat kulihat
toh bintang dan bulan hanya ada di kejauhan
dan sekarang bersembunyi entah dimana
Akan kututup telingaku
sebab hanya keheningan yang ingin kudengar
otak tak berhenti berlogika
hati berkelahi riuh rendah begitu bising
aku ingin terbang
merasa ringan
tapi mengapa aku hanya melayang-layang di kehampaan?
Angin,
kau tak mau meniupku?
[ .. ]
Denyar kehangatan
sayup-sayup beranjak nanar
kosongkan relung-relung nafas
mengisinya dengan pekat
Selarik jejak tanah
menyisakan serpihan-serpihan topeng yang hancur
mengingatkan pada keperihan setiap ceruk tubuh
oleh luka-luka yang tak kunjung sembuh
Di bulat bulan
kuguratkan ujung jari yang asin
melukis langit, mencungkil bintang
pendar dingin cahaya
mengusap kekosongan
mengetuk geliat rahim dengan sunyi
lalu tinggalkan ia berdetak sendiri
merindu bulan jatuh di pangkuan
Sepotong Wajah
Cabikan sepotong wajah
kau hamburkan ke udara
Serpihannya beterbangan
bagai daun berguguran di ujung petang
Mataku tetap menyanyikan sajak luka
Namun tiada henti kau usap
dengan ujung jarimu
Jangan menangis lagi
Lirih
Kau ucapkan itu
Ku tegakkan langit
Langitku runtuh
Siang dan malam telah kusantap
berhidang kelopak-kelopak bunga luruh
Terasa pahit dan juga getir
Ku pikir kan terbiasa
tapi ternyata aku tak suka
Maka ku muntahkanlah semua
Ku pandang cermin
Sekerat bulan itu pias
Sungai airmata pun telah susut
Ku tegakkan lagi langit
Ku gantungkan lagi matahari yang redup itu
Hariku berjalan gagap
entah kapan bulanku kan cemerlang lagi
Kelopak layu
Peti yang kau peram sekian waktu
retak berkeping
bersama hamburan beribu kelopak layu
yang masih saja kau coba rangkaikan
sambil menghirup sisa-sisa wewangian
penuh rasa sayang dan juga kenangan
Kau tahu
beribu kelopak itu
akan menjadi racun dalam darahku
dan saat kau sadari arti ketiadaanku
susah payah kau cabuti duri kelopak itu dalam dagingku
saat itu dalam beku
airmatamu
airmataku
jadi satu
-
Recent
-
Links
-
Archives
- December 2009 (1)
- January 2009 (2)
- December 2008 (1)
- November 2008 (1)
- August 2008 (1)
- October 2007 (3)
- September 2007 (4)
- August 2007 (1)
- January 2007 (1)
- December 2006 (1)
- July 2006 (3)
- June 2006 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS