Angin
Angin,
aku kepingin terbang
bisa bawa aku sekarang?
Akan kututup mataku
agar gelap malam tak dapat kulihat
toh bintang dan bulan hanya ada di kejauhan
dan sekarang bersembunyi entah dimana
Akan kututup telingaku
sebab hanya keheningan yang ingin kudengar
otak tak berhenti berlogika
hati berkelahi riuh rendah begitu bising
aku ingin terbang
merasa ringan
tapi mengapa aku hanya melayang-layang di kehampaan?
Angin,
kau tak mau meniupku?
[ .. ]
Denyar kehangatan
sayup-sayup beranjak nanar
kosongkan relung-relung nafas
mengisinya dengan pekat
Selarik jejak tanah
menyisakan serpihan-serpihan topeng yang hancur
mengingatkan pada keperihan setiap ceruk tubuh
oleh luka-luka yang tak kunjung sembuh
Di bulat bulan
kuguratkan ujung jari yang asin
melukis langit, mencungkil bintang
pendar dingin cahaya
mengusap kekosongan
mengetuk geliat rahim dengan sunyi
lalu tinggalkan ia berdetak sendiri
merindu bulan jatuh di pangkuan
Sepotong Wajah
Cabikan sepotong wajah
kau hamburkan ke udara
Serpihannya beterbangan
bagai daun berguguran di ujung petang
Mataku tetap menyanyikan sajak luka
Namun tiada henti kau usap
dengan ujung jarimu
Jangan menangis lagi
Lirih
Kau ucapkan itu
Ku tegakkan langit
Langitku runtuh
Siang dan malam telah kusantap
berhidang kelopak-kelopak bunga luruh
Terasa pahit dan juga getir
Ku pikir kan terbiasa
tapi ternyata aku tak suka
Maka ku muntahkanlah semua
Ku pandang cermin
Sekerat bulan itu pias
Sungai airmata pun telah susut
Ku tegakkan lagi langit
Ku gantungkan lagi matahari yang redup itu
Hariku berjalan gagap
entah kapan bulanku kan cemerlang lagi
Kelopak layu
Peti yang kau peram sekian waktu
retak berkeping
bersama hamburan beribu kelopak layu
yang masih saja kau coba rangkaikan
sambil menghirup sisa-sisa wewangian
penuh rasa sayang dan juga kenangan
Kau tahu
beribu kelopak itu
akan menjadi racun dalam darahku
dan saat kau sadari arti ketiadaanku
susah payah kau cabuti duri kelopak itu dalam dagingku
saat itu dalam beku
airmatamu
airmataku
jadi satu
Passion
Malam
hangat pekat..
Udara menggelepar
menuntut hujan
Debur ombak berdenyar
Angin pun menceracau
Gelitik ribuan kupu-kupu
memenuhi bumiku
saat itu
detakmu
ada di dalamku
-15 Des 2006-
Terang
sinar matahari itu
tersenyum malu-malu
menyeruak sela-sela ruang waktu
membuatku terlupa
pada gelap
yang baru saja berlalu
Ruang Rindu
bias ungu
ruang kalbu
kenangan mengharu
di sini
di hati
kembali
lagi
lagi
tak jua pergi
sesak.
Dan pintu itu
Berderit
selalu
..[^_^]..
senyum tulus itu
buatku berpaling
dia
sederhana
berjuta kata di matanya
menyimpan makna sejarak waktu ribuan cahaya
ingin sekali
memberi-
di beri
seluruh diri
hingga hausnya-hausku terobati
-14 Juli ‘06 12:08 for : ..[^_^]..
Gelap
Hari-hariku sudah gelap
Entah kapan ku jumpai lagi matahari
Mungkin jarak waktu ribuan cahaya
Atau mungkin hanya sekedip mata
Dan aku hanya mampu pasrah
Dianiaya sepi
Rindu ku telan sendiri
-16 April 2006-
-
Recent
-
Links
-
Archives
- December 2009 (1)
- January 2009 (2)
- December 2008 (1)
- November 2008 (1)
- August 2008 (1)
- October 2007 (3)
- September 2007 (4)
- August 2007 (1)
- January 2007 (1)
- December 2006 (1)
- July 2006 (3)
- June 2006 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS